Friday, February 10, 2006

bunga-bunga

Sejak mengenal karyawan baru di kantornya, Tito rajin bangun lebih pagi. Ia ingin segera sampai di kantor. Ia menggerakan tubuhnya seringan kapas. Ia beranjak meninggalkan tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Suara-suara nyanyian kecilnya bergema. Tapi tak ada yang mendengar.

Sejak ditinggal isterinya training ke Bangkok dua bulan lalu, ia sendirian. Sebenarnya Tito keberatan. Karena sekarang ia kehilangan teman berbagi. Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan, pakaian sebelum berangkat. Sejak menikah isterinya lebih memilih mengurus keluarga, tak bekerja di luar lagi.


Andai anak pertamanya tak meninggal, kehidupan keluargannya tak akan berubah.

Hidup memang selalu tak terduga. Ketika usia kandungan isterinya menginjak tujuh bulan, petaka itu terjadi. Sore itu isterinya mandi. Ketika akan membilas tubuhnya, seekor kecoak terbang dan hinggap di punggung isterinya. Karena terkejut, isterinya berjingkrak-jingkrak kegelian. Lantai kamar mandi yang penuh busa itu membuat isterinya terpeleset. Ia mengalami pendarahan parah.

Tito langsung membawa ke rumah sakit bersalin. Ternyata dokter tak bisa menyelamatkan calon bayinya. Janin itu langsung meninggal.

Padahal Tito dan isterinya sangat mengharapkan kehadiran bayi dalam rumah tangganya sejak sepuluh tahun lalu. Segala usaha dilakukan. Dari terapi doa-doa, minum jus kecambah kacang ijo tiap pagi sampai datang ke orang-orang pintar.

Suatu hari dokter menyatakan isterinya hamil. Keduanya begitu bersuka-cita. Semua teman-temannya dikabari lewat milis, telepon dan surat. Isterinya lalu rajin menulis perkembangan kehamilannya di sebuah blog. Nama-nama sudah dipersiapkan, meskipun belum tahu jenis kelamin bayinya.

Kepergian bayi itu membuat isterinya mengurung diri di kamar berhari-hari. Jangankan mengurus suami, dirinya sendiri saja ditelantarkan. Saat itulah dia lupa sebagai seorang isteri, bahkan di kamar tidur sekalipun. Isterinya akan merasakan kesakitan yang sangat ketika tangan Tito menjamahnya.

Tangan suaminya yang berbulu, tiba-tiba berubah seperti tangan kingkong di film. Tubuh suaminya tampak bak ular kobra yang siap membelit dan mematuk. Perempuan itu histeris. Dan Tito hanya bisa memandang dari jarak dekat sambil menenangkan. Beberapa menit kemudian isterinya akan normal kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.

Dokter menasehati Tito untuk bersabar. Dan ternyata benar, isterinya kini sudah bisa diajak ngobrol meskipun sepatah dua patah kata. Ia mulai makan teratur, tapi belum mau keluar rumah. Agar isterinya tidak kesepian, Tito membelikan seperangkat webcam agar bisa berkomunikasi sambil memantau keadaan isterinya.


Pagi itu, ketika tahu suaminya sampai di kantor ia akan segera menyalakan webcam di komputernya. Lalu mengajak ngobrol, menceritakan apa yang ia rasakan semalam. Lalu obrolan itu berlanjut terus ke topic ayng sangat intim sambil memandangi wajah suaminya di layar komputer.

Ternyata wajah suaminya lebih tampan dari yang sebenarnya. Suaranya yang keluar dari speaker juga lebih mantap. Terdengar sangat bijaksana. Perempuan itu menjadi bergairah. Ada kenikmatan yang tak ia rasakan sebelumnya.

Ketika suaminya meeting ia lalu mengajak orang-orang yang sedang online saat itu. Perempuan itu exciting, ia tak sendirian. Ada banyak orang yang mempunyai keinginan yang sama dengan dirinya. Bahkan ada yang lebih liar. Perempuan itu hanyut dalam buaian kata-kata lawan bicaranya yang tampak di layar komputer. Entah di belahan benua mana ia berada. Dengan bebas, perempuan itu menuruti segala permintaan laki-laki yang diajaknya chat.

Tentu saja, kegiatan baru dengan laki-laki asing itu tak sepengetahuan suaminya. Perempuan itu kini mempunyai kebiasan baru.
**

Di dalam kamar mandi itu, Tito menatap bayangan seluruh tubuhnya di cermin. Ia kini lebih seksama memperhatikan lekuk tubuhnya. Perutnya kini sudah banyak lipatan-lipatan yang membuncit. Garis-garis di jidatnya kian jelas, keriput di kedua sudut matanya lebih dalam. Ia mencukur habis kumis dan merapikan cambangnya. Kulit itu tampak membiru ketika bulu-bulunya terpangkas habis.

Ia menyusun rencana jadwal fitnesnya. Menu makan sehari-harinya mengikuti petunjuk yang ada di buku food combining. Sebelum sampai di kantor, ia akan membuat rambutnya yang semua dibelah pinggir, menjadi model mohawk yang menantang langit. Ia menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi.

Ketika ia memilih baju, deretan kemeja panjang yang coraknya kotak-korak terasa sudah kadaluwarsa. Mondar-mandir ia di depan cermin, mamatut-matut kemeja mana yang cocok. Laki-laki itu memadukan kemeja panjang coklat dan dasi yang warnanya mirip. Tapi ia merasa paduan warna itu terasa kurang kontras. Tak matching, kurang eye cathing. Lalu ia mengambil kemeja lengan pendek warna hijau muda. Selama ini ia memakai baju lengan pendek hanya pada hari Jumat. Ia melemparnya ke atas kasur. Mencoba kemeja yang lain lagi dan merasa tak sreg lagi. Kemeja-kemeja itu berserak di kasur. Lalu ia memutuskan memakai baju yang tak begitu formal, dipadu dengan celana santai warna khakhi. Sepatunya pun bukan sepatu yang berbunyi tik tok tik tok ketika menginjak lantai. Ia menyemprotkan parfum termahal yang dipunyainya ke seluruh tubuhnya.

Belum selesai dia berdandan, telepon berbunyi. Laki-laki itu tergopoh mengangkatnya tak sampai dering ketiga.

"Ya ma, saya sudah siap berangkat ke kantor nih. Ok nanti malam. Aku tak akan telat online.

"Ah aku tak boleh pulang telat nih. Bisa bisa ia marah lagi." Tapi bukankah nanti malamitu masih lama?. APalagi ia tak menyebutkan jamnya. Berarti bisa jam , 8 , 9 atau jam 12 malam kan?" Gumamnya sambil senyum.

Laki-laki itu lalu bergegas ke kantor dengan mobilnya. Tampak jalan pagi itu terasa lebih lebar. Juga para pengendara motor, metromini juga berjalan tak seperti "halilintar" yang ada di dufan. Matahari pagi mengubah wajah-wajah menjadi cerah. Langit biru, sekumpulan awan tipis membentuk sebuah lukisan abstrak. Pagi yang nyaris sempurna.

"Ting ting ting", hpnya berbunyi. Dari isterinya lagi.

"Iya ini masih dijalan, baru saja berangkat. Nanti kalau sampai di kantor saya telepon." Laki-laki itu lalu melempar hpnya ke jok disampingnya.

Di setiap kelokan jalan ia memberikan sebuah apel kepada "pak ogah", yang ikut mengatur lalu lintas. Sebelumnya ia benci dengan "polisi cepek" yang menurutnya hanya cari uang. Saat itu ia hanya memberi uang recehan sambil ngedumel.

Laki-laki itu kini merasa fresh, tak sedikit pun ada guratan masalaah di wajahnya. Sambil menyetir kepalanya mengangguk-angguk mengikuti iringan musiknya Linkink Park. Sesekali tangannya menepuk-nepuk kemudi. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri. Karena tak lama lagi ia akan segera bertemu dengan karyawan baru yang bermata segaris itu.

Karyawan baru itu sangat mirip dengan isterinya. Kulitnya bening nyaris transparan, sehalus pualam. Rambutnya kelam, dipotong sebahu. Dadanya menjulang. Setiap lelaki menelan ludah ketika menatapnya. Namanya Maria. Perempuan itu selalu memakai blazer. Menjelang sore ia selalu mencopot dan menaruhnya di sandaran kursi. Tinggal kaos dalamnya yang membungkus ketat tubuhnya.

Ketika ia membuka pintu kantor, semua terperangah melihat penampilan baru Tito. Ada yang bersuit-suit. Sebagian lain berdehem-dehem. Tapi laki-laki itu bergeming, seolah tak terjadi keanehan. Hampir seluruh katyawan sudah datang, kecuali Maria. Laki-laki itu langsung menuju ke ruangan pribadinya. Sebagai seorang manager, ia mempunyai ruangan sendiri yang tertutup. Tak sampai bermenit-menit, ia keluar lagi. Dan menuju ke salah satu meja staffnya.

Ia hanya ingin melihat Maria sudah datang atau belum, tapi ia tak ingin diketahui oleh karyawan seisi kantor. Lalu ia mengajak ngobrol, tentang topik-topik yang tak penting. Begitu yang diajak bicara enggan menanggapi, ia pindah ke meja lain. Begitu seterusnya sampai nyaris waktu makan siang. Maria belum datang. Dari bisik-bisik ia tahu, Maria langsung meeting dengan client. Ia lalu kembali ke ruangannya sendiri.

"Ini kesempatan terbaikmu, sampaikan keinginanmu".

Tito masih tetap menunduk.

"Jangan pikirkan isterimu. Kamu yakin isterimu disana sedang memikirkanmu sekarang, " begitu bisikan-bisikan yang tiba-tiba terdengar.

Ia mengangguk-angguk seolah menyetujui sebuah ide yang dahsyat. Laki-laki itu lalu pergi ke jalan barito, ke sebuah toko bunga. Di sisi kiri jalan sepanjang kira-kira 300 meter itu berserak bermacam bunga warna-warna. Di benaknya ia dan Maria ingin seperti di film-film India yang selalu bernyanyi dan menari di tengah padang bunga.

Siang itu ia melewati jalan barito itu entah telah yang keberapa. Jalanan macet, karena jam makan siang. Mobil-mobil berjalan merayap. Tito mencermati setiap toko lebih seksama. Tapi ia belum tahu bunga apa yang pantas untuk bidadarinya.

Ia menepi dan masuk ke toko yang paling besar.

"Akan kuberikan seikat bunga mawar!. Ya mawar merah!"

Setengah berteriak ia seolah mendapatkan ide cemerlang. Seperti yang dibacanya, mawar berarti perasaan cinta yang menggebu. Sangat pas mewakili perasaan hatinya saat ini. Tapi ia menjadi ragu ketika semua orang memberikan mawar untuk kekasihnya.

"Basi! Aku ingin memberikan suatu kejutan yang beda."

"Bagaimana dengan lily? Ya Lily putih tampaknya lebih tepat."

Laki-laki itu mengambil lalu menciuminya. Cintanya kepada Maria benar-benar tak ada bandingnya.

"Tapi jangan-jangan bunga lily itu bunga kematian? Saat Lady Di meninggal, diatas peti matinya ditaruh seikat lily putih. Oh tidak.... Saya tak ingin cinta saya mati sebelum berbuah."

Lalu ia melihat anggrek yang kuntum bunganya beragam warna. Anggrek Papua dari spesies Dendrobium violaceoflavens yang menang di salah satu kontes internasional ini pasti sangat pas. Selain indah bunga anggrek ini berkelas. Hanya orang-orang tertentu yang sanggup membelinya. Anggrek ini sangat langka dan mahal.

Tito mundur beberapa langkah, mengamati dari jarak yang lebih jauh. Lalu ia merasa tak sreg, bunga anggrek ini kaku, seperti bunga tiruan. Mirip bunga plastik yang dijual pedagang keliling atau di perempatan lampu merah. Ia mengembalikan anggrek tersebut ke tempatnya semula.

Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia belum tahu bunga apa yang pas untuk kekasihnya. Tiba-tiba saja ia sudah merasa menjadi kekasih Maria.

Ia menyapukan pandangannya lebih seksama ke seluruh bunga yang dipajang di dalam toko tersebut. Sebuah teve menyiarkan berita siang. Tampak di layar polisi beramai-ramai menggerebeg sebuah rumah. Polisi-polisi itu menangkap kepala sekte keagamaan yang diduga mengajarkan aliran sesat. Kepala sekte yang perempuan itu dulunya adalah perangkai bunga.

"Tepat sekali, bunga kering!"

Tito itu berkesimpulan, selama ini orang jarang yang memberikan rangkaian bunga kering kepada kekasihnya.

"Saya kira ini lebih bisa mewakili perasaanku. Namanya rangkaian, pasti terdiri dari bermacam-macam bunga. Ada melati yang melambangkan kesucian. Anyelir yang penuh pesona, krisan yang penuh persahabatan dan aster yang berarti setia. Tapi yang harus ada adalah edelweis, bunga keabadian cinta.

Yakin dengan pilihannya, ia lalu menghampiri penjaga tokonya.

"Mbak saya minta dibuatkan rangkaian bunga kering?

"Mau buat parcel ya mas?"

"Bukan!

"Oh untuk bikin souvenir?"

Alis mata Tito terangkat ke atas.

"Memang hanya untuk keperluan itu saja"?

"Bunga itu kan sebenarnya sisa, bunga yang tak laku mas. Sayang kan kalau dibuang. Jadi mending dikeringkan bisa menghasilkan uang lagi.

"Mati aku!" Laki-laki itu memukul jidatnya.

"Tak mungkin aku memberikan sampah kering itu kepada Maria. Bisa-bisa aku ditertawakannya habis-habisan, atau bahkan langsung menolak. Aku harus cari ide yang lebih hebat dan jenial. Sekali lagi Tito menyusuri jalan Barito. Merasa tak menemukan ide, ia menuju ke mal Pondok Indah yang dekat dengan kantornya. Sekalian makan siang.

Di mal itu, tampak kerumunan ibu-ibu di sebuah stand. Ada pameran kaktus internasional. Kaktus dari Amerika Selatan, Meksiko, Kanada Utara dan Kepulauan Galapagos di pamerkan. Bermacam-macam bentuk pohonnya. Ada yang berbentuk bulat-bulat, ada yang seperti botol bertotol-totol. Tapi semuanya sama, berduri.

Tito menyeruak diantara ibu-ibu muda yang bergerombol. Ia mamandang satu persatu kaktus yang berada dalam pot-pot berbentuk hewan-hewan lucu karya keramikus terkenal.

"Nah ini yang aku cari. Ini akan menjadi pemberian yang special, untuk orang yang spesial juga."

Lalu laki-laki itu bergegas melangkah menemui penjaganyanya.

"Mbak ada ngga kaktus yang berbunga pink?"

"Pasti ada. Perempuan itu mengambil kaktus jenis Astrophytum Asterias. Tumbuhan ini bisa hidup di daerah yang sangat ekstrim cuacanya. Sangat kuat dari serangan penyakit jamur. Mudah perawatannya, jarang orang gagal memelihara jenis kaktus ini. Tapi yang ini bunganya masih kuncup. Kira-kira seminggu lagi bunganya akan mekar sempurna. Perempuan itu mengangkat kaktus yang tingginya kira-kira 15 cm dan menunjuk kuncup bunga yang seperti tunas."

"Bisa nggak dipercepat?"

"Kaktus beda dengan tanaman lain. Kalau dipaksa, bunganya akan lembek dan cepat layu."

Tito merasa waktu seminggu itu terlalu lama.

"Gimana agar bunganya tetap bagus?"

"Bapak ikut saya ke meja sebelah sana saja."

Mereka melangkah menuju ke dua meja yang berjejer. Ada dua perempuan cantik duduk berhdap-hadapan. Seorang calon pembeli sedang konsultasi. Menatap perempuan berambut sebahu itu, Tito serasa jantugnya mau copot. Bicaranya menjadi agak tergagap.

"Maria, kau ada di sini juga?"

"Pak Tito, sedang mencari kaktus juga? "

"Iya. Ternyata kita punya kesenangan yang sama. Kenapa kau tak pernah cerita? Sudah banyak koleksi kaktus yang kau punya?

Tito sedang bermain lenong siang itu.

"Oh ngga pak, saya lagi nyari kaktus yang pas buat pacar saya"

"Pacar? "

Mata Tito terbelalak. Tapi ia cepat menguasai diri.

"Ya, saya akan putuskan pacar saya."

Tiba-tiba hp Tito berdering.

"Ya, saya sedang miting di luar, tak bisa online. Sebentar lagi saya sampai kantor".

Tito merasa seperti dikejar-kejar harimau sampai ke bibir jurang.

Sunday, December 25, 2005

silakan mendownload

dear semua,
in adalah list soft copy novel2 pilihan:

1.